Jakarta – Kuliner Nusantara tak hanya menawarkan ragam cita rasa, tapi juga menyimpan cerita tentang bahan pangan, teknik memasak, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Kekayaan gastronomi Indonesia ini diangkat melalui Wonderful Indonesia Gastronomy Culinary Festival yang berlangsung pada 7 Oktober hingga 1 November 2026 di 32 pusat perbelanjaan di berbagai kota.

Mengusung tema “From Local Roots to Global Recognition,” festival ini mendorong pengenalan kuliner lokal sebagai daya tarik wisata. Festival tersebut melanjutkan rangkaian Wonderful Indonesia Gastronomy 2026 di Solo dan Yogyakarta pada 26 September–4 Oktober 2026.

Pembukaan di Kota Kasablanka, Jakarta, berkolaborasi dengan Festival Kuliner D’Kambodja Heritage by Anne Avantie yang menyajikan kekayaan kuliner Semarang dan kawasan Joglosemar.

Beberapa tenant yang berpartisipasi antara lain Loempia Resep Kuno, Tahu Bakso Bandungan, Tahu Petis Semarangan, Nasi Ayam Semarang, Tahu Pong Semarang, dan Dawet Duren D’Kambodja, serta sejumlah tenant lainnya.

Pendiri sekaligus Ketua Indonesia Gastronomy Network, Vita Datau, menyebut penyelenggaraan di berbagai lokasi sebagai upaya memperluas gerakan gastronomi Indonesia.

“Ini bukan sekadar event. Kami memutuskan bahwa memang betul-betul harus melakukan gerakan atau action, sehingga kita enggak bisa bikin event hanya di satu tempat,” katanya saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan dan Penyelenggaraan Kegiatan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Hafiz Agung Rifai, menyebut sektor kuliner menyumbang lebih dari 41 persen terhadap PDB ekonomi kreatif Indonesia. Pengeluaran makanan juga menyerap sekitar 30–40 persen dari total belanja wisatawan.

“Wisata gastronomi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan daya tarik utama yang mendorong wisatawan untuk berkunjung dan menjelajahi suatu destinasi,” kata Hafiz.

Keunikan kuliner daerah dapat mendorong wisatawan mengunjungi daerah asal makanan tersebut. Pengalaman mencicipi hidangan khas juga membuka peluang untuk mengenal budaya setempat dan menjelajahi destinasi wisata di sekitarnya.

“Setiap makanan itu punya cerita di belakangnya. Nah, cerita-cerita inilah yang akhirnya kita bangun menjadi sebuah narasi yang tidak hanya menimbulkan curiosity, tapi juga menimbulkan rasa untuk mereka yang ingin mencicipi,” ujar Hafiz.

Vita menekankan pentingnya menjaga keterkaitan kuliner dengan akar budayanya di tengah upaya memperkenalkan gastronomi Indonesia ke pasar global. Inovasi penyajian dan pengemasan dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa menghilangkan identitas hidangan tradisional.

Menurut Vita, kreativitas juga berperan dalam menjaga minat generasi muda terhadap makanan khas daerah. Pengembangan kuliner perlu berjalan seiring dengan pemahaman mengenai asal-usul hidangan. “Yang penting tahu makanan itu asalnya dari mana,” ujarnya.lgo99

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *